Di tengah-tengah kebingungan untuk menghidupi keluarga,akhirnya terbesitlah dalam pikiran saya untuk menjadi seorang TKI. Apalagi setelah mendengar kabar bahwa ternyata cukup banyak mantan TKI di daerah saya yang boleh dikatakan berhasil. Dari hasil bekerja selama menjadi TKI, diantara mereka ada yang bisa membangun rumah, membuka toko atau membeli sawah. Saya kemudian berpikir, pekerjaan apalagi yang bisa menghasilkan uang cukup banyak selain menjadi TKI ke luar negeri.
Singkat kisah, pada tahun 2000, bertemulah saya dengan seorang sponsor atau agen pengiriman TKI ke luar negeri. Namun ketika tawaran untuk menjadi TKI itu ada, saya malah takut pergi jauh dari anak-anak dan keluarga, apalagi harus bekerja sebagai TKI, keberanian untuk TKI kembali munculdalam diri saya. Saya memilih menjadi TKI pada dasarnya juga demi anak-anak, pikirku.
Setelah mendapat ijin dari orang tua, pada tahun itulah saya mempersiapkan segala sesuatunya demi memenuhi persyaratan pemberangkatan sebagai pekerja rumah tangga (PRT) keluar negeri. Termasuk meminjam sejumlah uang dari tetangga untuk mengurus keperluan administrasi dan dokumentasi. Demi menjadi TKI, saya rela meminjam uang yang cukup besar meskipun pengembaliannya dikenai bunga seratus persen.
Tidak seberapa lama , akhirnya saya bersama para perempuan calon TKI lain dan sponsor berangkat ke salah satu perusahaan pengerah TKI di Jakarta. Saya lupa nama perusahaan itu. Selama di Jakarta saya sempat mengikuti pelatihan dan prosedural lain yang katanya sebagai syarat agar bisa dikirim ke negera tujuan.Waktu itu tujuan bekerja saya Abu Dhabi.
Setelah sejumlah persyaratan saya penuhi, akhirnya saya dan rekan-rekan TKI lain berangkat ke negara tujuan dengan pesawat terbang. Pengalaman ini cukup mengesankan. sebab inilah pertama kali saya naik pesawat terbang. Alhamdulillah, di sana saya ditempatkan bekerja pada keluarga majikan yang baik kepada saya. SSeingat saya, selama bekerja di sana, saya merasa tidak pernah diperlakukan secara kasar sekalipun diantara saya dan keluarga majikan yang berjumlah lima orang itu (suami-istri, dan ketiga anaknya yang sudah dewasa) pernah terjadi kesalahpahaman. Hal ini terjadi karena awalnya saya agak sulit beradaptasi dengan istiadat keluarga di sana. Namun lama kelamaan saya bisa belajar menyesuaikan diri dengan budaya keluarga majikan.
Sebagai PRT, saya mengerjakan berbagai pekerjaan seperti membersikan rumah, mencuci, memasak, terkadang belanja untuk keperluan dapur. Dalam spekan, saya mendapatkan satu hari libur. Saat itulah saya sering diajak jalan-jalan.
Dalam setiap bulannya, majikan pun selalu memberikan gaji saya yang dalam Rupiah besarnya sekitar 1,3 juta. Setiap bulan pula, melalui wesel saya mengirimkan sebagian gaji saya ke kewluarga di kampung. Gaji itu digunakan untuk membayar cicilan utang ketika mengurus keperluan proses administrasi dan dokumentasi sebelum berangkat ke Abu Dhabi. Sisanya di pakai membiayai keperluan kedua anak saya yang saya titipkan pada orang tua. Termasuk melanjutkan pendidikan sekolah mereka yang dulu sempat terhenti (keluar dari sekolahnya) karena tidak ada biaya. Bahkan dari kiriman uang hasil bekerja selama sekitar dua tahun itu juga dipakai memperbaiki rumah saya tinggalkan memang sudah tampak banyak bagian yang rusak.
Setelah bekerja dua tahun di Abu Dhabi, kontrak saya berakhir. Rasa kangen terhadap anak-anak dan orang tua membuat saya memutuskan untuk segera pulang ke kampung halaman. Waktu itu,saya pulang membawa uang sekitar 11 juta rupiah. Namun sayangnya, uang tersebut tidak bisa saya kelola secara produktif dengan membuka warung atau dagang keci-kecilan misalnya. Melainkan habis terpakai untuk memperbaiki rumah yang ternyata masih ada yang rusak, dipinjem saudara-saudara saya, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Agustus 2006 saya berencana kembali bekerja sebagai PRT di luar negeri dengan negara tujuan Syiria. segala proses persyaratan sudah saya penuhi. Tinggal menunggu keberangkatanya saja. Saya bertekad, hasil dari bekerja di sana akan saya pergunakan untuk membuka usaha wlaupun warung kecil-kecilan.