|
| Home | TKI Professional | TKI yang jadi Profesional |
|
|
TKI yang jadi Profesional
Tue 29 November 2011 23:28 WIB | Sumber : bnp2tki |
|
 ist |
Nurhidayat (33) adalah Tenaga Kerja Indinoesia (TKI) Purna Taiwan yang kini sukses bekerja sebagai marketing dipersusahaan Quiet Intertanional Limited. Perusahaan tersebut menjual alat terapi kesehatan dan kebugaran yang produknya berasal dari Jerman. Setiap pekannya Nurhidayat mendapatkan gaji sebesar $ 250.
Selama 8 tahun Nurhidayat bekerja sebagai TKI di Taiwan, ia bekerja di perusahaan pembuatan spaer part mobil Nissan. Tahun 1999 adalah tahun pertama ia bekerja di Taiwan, setalah kontrak kerja selesai pada 2002 Nurhidayat pulang ke kampung halamannya di Cilacap, Jawa Tengah.
Beberapa bulan berada di rumah, pada 2003 Nurhidayat kembali lagi bekerja ke Taiwan. Ini merupakan kali ke dua ia bekerja sebagai TKI di Taiwan, dan masih di perusahaan yang sama. Pada 2005, kontrak keduanya berakhir dan iapun pulang kembali ke tanah air.
Sama seperti sebelumnya, kepulangan ke duanya ini ia manfaatkan dengan baik untuk bertemu dengan keluarganya. Setelah beberapa bulan di rumah, pada 2005 pria yang lahir di Cilacap, 4 Februari 1977 ini kemudian kembali berangkat ke Taiwan untuk ketiga kalinya.
“Sesudah kontrak ketiga selesai pada 2008 saya pulang ke Indonesia. 8 tahun memang waktu yang cukup untuk saya bekerja, selama 8 tahun juga saya banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan,” tuturnya
Selama 8 tahun bekerja di Taiwan, Nurhidayat aktif diberbagai kegiatan religi dan sosial bersama teman-teman TKI Tawain. Ia aktif di forum Keluarga Muslim Indonesia Taiwan (KMIT), di forum tersebut Nurhidayat menjabat sebagai wakil ketua. Selain di KMIT, ia juga aktif forum Ikatan Muslim Indonesia Taiwan (IMIT) di Taicung. Di forum tersebut ia menjabat sebagai ketua.
Setelah tiga kali menyelesaikan kontrak kerjanya di Taiwan, pria yang biasa dipanggil Salim ini memutuskan untuk tidak kembali ke Taiwan. Tak heran ia pun sempat menganggur beberapa lama karena tidak kunjung mendapat pekerjaan di Indonesia.
“Setahun nganggur saya memutuskan untuk kembali bekerja menjadi TKI. Tapi saya enggan ke Taiwan dan ingin ke Korea. Namun, itu tidak terjadi karena pada 2009 saya mendapat kerjaan di perusahaan asing yang ada di Indonesia Quiet Intertanional Limited,” terangnya
Di perusahaan tersebut, Nurhidayat bekerja sebagai marketing yang menjual alat terapi kesehatan dan kebugaran. Ia juga mempresentasikan produknya tersebut ke berbagai daerah di Indonesia.
“Alat tersebut bisa mengobati berbagai penyakit seperti diabetes, paru-paru, jantung, ginjal, lemah sahwat dan penyakit lainnya,” jelas Nurhidayat yang mengaku induk perusahaannya berada di Hongkong.
Ia mengatakan karena Quiet Intertanional Limited merupakan perusahaan asing, maka gaji yang ia terima adalah dollar. Setiap pekannya Nurhidayat mengaku mendapatkan gaji sebesar $ 250. Menurutnya gaji tersebut jauh lebih besar dari gaji sewaktu ia bekerja di Tawain.
“Sekarang sudah jauh lebih baik, Alhamdulillah saya sudah memiliki sebuah mobil Nissan hasil kerjas keras selama ini. Jika dulu bekerja membuat spaer part nya, sekarang sudah memiliki mobilnya,” pungkasnya.***aen
|
|
| |
|
|
|
| |
 |
Baca Juga |
 |
Merry Sukses di Singapura Berkat Mimpi dan Kerja Keras Seperti tanaman, bibit yang baik hanya akan tumbuh subur jika kita menyiapkan tanah dan pupuk yang baik. Begitu juga keajaiban. Keajaiban pada dasarnya datang menghampiri orang-orang yang selama hidupnya bekerja keras dan berbuat yang terbaik dengan tujuan hidup yang jelas. |
 |
TKI Profesor di Malaysia Kendati mencari nafkah di luar negeri, bukan berarti ilmuwan ini tidak cinta tanah air. Penggondol berbagai gelar ini mengaku masih menjunjung tinggi nasionalisme. Ia adalah TKI Profesor di Malaysia. |
 |
Hamami, Mantan TKI Jadi Sekretaris Desa Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Brunai Darussaalam ini kini sudah sukses. Hamami (39) sudah mejadi Sekretaris Desa (Sekdes) di desanya Sinar Banten, Talang Padang, Tanggamus. Ia juga mempunyai usaha percetakan. |
 |
Kisah Sukses TKI Taiwan Jadi Kepala Desa Kepala Desa Sinar Petir, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus ini adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Taiwan. Selain menjadi Kades, ia juga mempunyai perkebunan kakau dan budidaya ikan. |
 |
Herlan Indrawan, TKI Sukses Korea dengan Tiga Usaha Herlan Indrawan (36), mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan ini sudah menuai sukses. |
|
|